Batik Gentongan Madura, bukan motif tapi teknik pewarnaan

Cetak

berita-beritadotcom (Surabaya, Jawa Timur): Mungkin kita pernah mendengar, membaca atau membeli kain Batik Gentongan Madura. Namun mungkin kita tidak benar - benar tahu apa dan bagaimana Batik Gentongan itu.

Untuk itu, Komunitas Batik Surabaya (KIBAS) mengajak para anggotanya dan pecinta batik mengunjungi perajin batik Zulpah Batik di Madura pada Sabtu (27/10/2012).

Menurut Ketua KIBAS, Lintu Tulistyantoro, pihaknya sengaja mengajak untuk mengunjungi perajin agar para pecinta batik bisa melihat langsung proses membatik maupun memilih – milih dan membeli batik langsung dari perajinnya.

“Jadi kita bisa tahu proses membatik dari awal hingga menjadi kain, termasuk tentang Batik Gentongan,” ujarnya.

Zulpah Batik terletak di kampung batik Desa Paseseh, Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura. Perajin ini memproduksi batik tulis maupun batik printing bernuansa klasik maupun kontemporer sekaligus memiliki showroom untuk memajang produknya.

Pemilik Zulpah Batik, Ali Mortono Hafidz, menuturkan produksi batiknya berawal dari home industry yang kini memasuki generasi keempat. Ia mengelola Zulpah Batik bersama istrinya Wuri.

Tono, panggilan akrab Mortono, menularkan pengetahuan mengenai Batik Gentongan yang merupakan ciri khas batik Madura. Ia mengatakan, selama ini banyak orang yang salah persepsi tentang Batik Gentongan yang dianggap sebagai motif batik. Padahal bukan. Juga banyak yang berpikir atau mengira batik ini harus dimasukkan ke dalam gentong selama berbulan – bulan.

“Gentongan adalah teknik pewarnaan untuk mendapatkan warna biru dengan menggunakan warna alam dari daun nila. Proses pewarnaan ini harus dilakukan di dalam gentong, karena nila memberikan warna indigo (biru) yang akan rusak jika terkena sinar matahari,” ungkapnya.

Dimasukkan gentong, papar Tono, karena gentong merupakan wadah yang besar untuk menyimpan sesuatu yang biasa dimiliki setiap rumah tangga pada zaman dulu. Benda ini terbuat dari tanah liat yang banyak diproduksi di pedesaan. Bisa sebagai wadah air atau pun beras.

Tono menjelaskan proses menghasilkan Batik Gentongan. Proses awal seperti biasa jika membatik. Setelah diberi malam, kain dimasukkan ke dalam gentong berisi pasta nila. Pasta ini berasal dari daun pohon nila yang direndam air semalaman, kemudian airnya dicampur dengan air kapur yang menghasilkan pasta. Pasta kemudian dicampur gula merah dan air kelapa.

Kain lalu direndam di dalam gentong selama semalam, kemudian diangkat pada pagi harinya untuk dikeringkan dengan cara diangin - anginkan. Jika warna biru yang diinginkan belum didapat, kain akan dimasukkan gentong lagi dan dikeringkan lagi besoknya. Biasanya pengulangan ini dilakukan hingga seminggu.

“Lama tidaknya kain dimasukkan gentong bergantung pada tingkat warna biru yang diinginkan. Paling lama seminggu. Jadi nggak sampai sebulan apalagi sampai berbulan – bulan. Bisa hancur kainnya,” ujarnya lalu tertawa.

Hal ini juga sering dipersepsi salah oleh banyak orang yang beranggapan bahwa kainnya harus direndam dalam gentong selama berbulan – bulan tanpa dikeluarkan sama sekali. Padahal, bahan kapur justru bisa merusak kain jika direndam terlalu lama.

Bahan kapur itu pula yang membuat batik gentongan lebih cocok diaplikasikan pada kain katun prima yang agak tebal. Jika menggunakan katun primisima atau sutera, maka kain bisa rusak.

Setelah pewarnaan selesai, kain dibilas air biasa kemudian diulang dengan air cuka untuk menetralkan bekas air kapur.

Konon ada kepercayaan, jika ada seseorang yang meninggal di rumah si perajin atau di sekitarnya, maka proses pewarnaan akan gagal. Namun Tono tak percaya, karena selama ini tak ada pengaruhnya.

“Dulu katanya begitu. Dianggap semacam pantangan. Kalau ada yang meninggal, warnanya nggak muncul. Tapi selama ini nggak ada masalah koq. Batik Gentongannya jadi semua. Bagus - bagus,” tutur pria yang pernah bekerja di media lalu sukses menjadi pengusaha batik ini.

Tono menambahkan, Batik Gentongan memiliki ciri bekas lipatan atau seperti retakan pada kainnya karena dilipat saat dimasukkan gentong. Ini perlu diketahui masyarakat agar tak keliru memilih.

Menurut Tono, Batik Gentongan bisa dibilang istimewa karena prosesnya cukup rumit dan lama. Tak heran harganya relatif mahal. Baik ini juga halus dengan bagian luar maupn dalam dibatik.

Lintu mengatakan, dengan mengetahui seluk beluk termasuk filosofi Batik Gentongan langsung dari perajinnya, pengetahuan kita tentang batik jadi bertambah dan membuat kita makin mencintai batik sebagai warisan nenek moyang yang patut dilestarikan.

“Indonesia memiliki batik yang kaya motif dan warna dari berbagai daerah. Tiap daerah memiliki ciri khas masing – masing. Batik dari Jawa Tengah tentu berbeda dengan batik Jawa Timur. Daerah - daerah di Jawa Timur sendiri juga punya ciri khas masing – masing. Misalnya Batik Gentongan dari Madura yang unik,” ujarnya.

Karena itu, imbuh Lintu, sebagai bangsa Indonesia, kita patut bangga dan menghargai batik dengan melestarikannya. “Jangan sampai kita baru ribut setelah diklaim negara lain,” pungkasnya. (natalia)

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.