berita-beritadotcom (Atambua, Nusa Tenggara Timur): “Kendala yang kami hadapi saat ini adalah dimana seluruh KBM belum berjalan dengan baik karena di sekolah ini belum ada gedung sekolah dan fasilitas yang mendukung. Sekolah ini kan dari sekolah tenda sewaktu terjadi pengungsian pada tahun 1999 di Timor-Timur dan saat ini sekolah ini dikelola oleh Yayasan Timor Oan Wehali di atas tanah milik Pemda Belu.
Sampai saat ini belum direhap. Kami rindu sebuah bangunan yang bisa mendukung proses KBM beserta fasilitasnya agar anak-anak didik dapat menimati pendidikan dengan baik. Dulu sekolah ini dibuat oleh LSM CCF dengan sebuah tenda yang terbuat dari terpal.
Sekolah ini diberi nama 7 September karena pada waktu itu terjadi pengungsian secara besar-besaran pada tanggal 7 September tahun 1999 dari Timor-Timur ke Atambua. Jadi, sampai saat ini sekolah ini dikhususkan bagi anak-anak eks pengungsian Timor-Timur.” Ungkap Kepala Sekolah SMP/ SMA 7 September Haliwen, Atambua, Belu- NTT, Hendri Queta dengan mimik kesedihan ketika ditemui di ruangannya, Rabu kemarin.
Lebih lanjut dikatakannya, tahun-tahun kemarin jumlah murid sangat banyak tetapi karena system pengelolaan dari yayasan kurang serius, sehingga akhir-akhir ini jumlah murid pun menurun drastis.
Dimana pada tahun ajaran 2010-2011 itu, itu semua guru yang mengajar di sekolah itu hampir kabur ke sekolah lain dikarenakan pembayaran gaji yang tidak baik ditambah lagi jumlah murid yang hampir tidak ada, sehingga membuat guru putus asa.
“Sekarang ini kami sangat membutuhkan bantuan dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Belu, agar membantu kami untuk pengadaan gedung yang layak serta ditunjang dengan fasilitas yang memadai dan gaji yang layak. Kalau dengan keadaan semacam ini terus, kami para guru mau bagaimana?
"Kami butuh sentuhan dari pemerintah, karena untuk membesarkan generasi penerus harus ditunjang juga dengan apa yang sudah saya katakan tadi. Kami hanya mau butuh ATK saja, susah setengah mati. Kalau boleh Pemerintah Belu, Pemerintah Propinsi NTT dan Pemerintah Pusat agar membantu kami dengan menghibahkan tanah dan membantu untuk membangun gedung sekolah yang baik.
"Ini sekolah 7 Sepetember ini kan berada di garis perbatasan RI- RDTL. Lihat sendiri saja pak Wartawan, kondisi sekolah kami ini. Dindingnya sudah dimakan rayap. Atapnya saja sudah pada bolong semua. Maukah anak-anak Indonesia penerus bangsa harus menderita seperti ini? Inilah kami sekolah 7 September yang berada di perbatasan RI- RDTL,” katanya dengan tetesan air mata ketika menyudahi pembicaraannya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Belu, Drs. Patrisius Asa, MM yang disaat itu mau dimintai komentarnya terkait kondisi yang dialami pihak sekolah dan pihak yayasan, tidak berada di tempat.
“Pak kadis sedang ke luar kota. Nanti saja baru pak datang.” Ujar Mario, salah satu petugas yang sementara merapikan buku-buku yang berantakan di lantai dekat ruangan Kepala Dinas. Disaat itu juga, Wartawan mencoba menghubungi beberapa kali ke ponselnya, tetapi tidak tersambung. Hingga berita ini diturunkan, Wartawan belum bertemu Kepala Dinas PPO Belu. (Felix)
















forum bebas tanpa batas
facebook 
