berita-beritadotcom (Surabaya, Jawa Timur): Hotel Bumi Surabaya menggelar Pasar Malem di Siti Inggil. Sesuai namanya, Pasar Malem hanya buka malam hari.
Menurut Humas Bumi Surabaya, Prima Soemarso, Pasar Malem bisa menjadi alternatif pilihan untuk bersantap bagi masyarakat di tengah kota yang padat dikepung gedung – gedung perkantoran yang menjulang.
Para karyawan di sekitar Bumi Surabaya bisa bersantap di sini seusai bekerja seharian sambil melepas penat bersama rekan – rekan atau melanjutkan perbincangan bisnis dengan kolega atau klien. Keluarga juga bisa bercengkrama di sini, menghabiskan waktu bersama sambil menikmati aneka panganan yang ditawarkan.
Prima mengatakan, Pasar Malem bertujuan mengangkat khasanah hidangan tradisional Jatim dan menyemarakkan wisata kuliner di Surabaya. Tempat ini menyediakan bermacam minuman dan panganan tradisional Jatim khususnya dari Surabaya.
Panganan yang ditawarkan bervariasi seperti lontong kikil, aneka hidangan penyet (bebek, ayam, tahu & terong), aneka olahan tahu (tahu campur, tahu petis), bakso, rawon, soto ayam dan aneka sate (ayam, daging). Juga ada gado - gado, karedok, pecel pincuk, tahu campur, nasgor mawut, iga bakar, ikan bakar, sup buntut, nasi liwet, pepes kakap, bakso, rujak cingur dan rujak manis.
Tak ketinggalan jajanan dan berbagai pilihan minuman seperti roti bakar, pisang bakar, jajan pasar, bubur madura, gorengan, kacang rebus, ubi rebus, wedang jahe, wedang tape, kopi tubruk, STMJ, bandrek, angsle, ronde, sekoteng, tauwa, dawet ayu, aneka es dan lainnya melengkapi selera bersantap para pengunjung.
“Menu – menu tertentu berganti setiap minggu agar pengunjung tak bosan. Tapi ada menu – menu tetap yang jadi favorit pengunjung,” ujar Prima pada Minggu (06/05/2012)
Pasar Malem berada di tempat terbuka yang dikelilingi taman tropis sehingga terasa asri. Hawa yang sejuk dan rindang pepohonan diantaranya pohon palem dan bambu akan membuat pengunjung merasa nyaman dan betah berlama – lama di sini. Suasananya seperti bukan di tengah Surabaya, tapi seperti di Bali di tempat wisata lainnya.
Tersedia bangku-bangku kayu dan meja kayu yang sengaja tidak diberi sentuhan modern. Temaram lampu batu dan penjor lampu bambu yang digantung bisa menimbulkan nuansa romantis bagi yang datang bersama pasangan.
Pengunjung bisa bersantap di tempat terbuka atau di dua joglo bergaya tradisional. Di tempat terbuka, pengunjung bisa duduk di bawah payung besar yang terbuat dari kain merah dengan rangka bambu dan anyaman benang wool merah. Di bawah payung – payung, tertata meja dan kursi dari kayu dengan taplak kotak – kotak biru putih dan tatakan piring anyaman.
Nuansa tradisional dan lawas terlihat pada gerobak dan pikulan sebagai tempat menyajikan hidangan. Juga wadah gelas air mineral dari bambu (Bahasa Jawa: bumbung), wadah minuman es dan wedang dari batok kelapa serta mug bertangan dari seng bercorak hijau seperti yang dipakai nenek dan kakek kita dulu. Tak ketinggalan tungku, anglo, cerek, teko, toples dan kaleng krupuk lawas aneka warna.
Para pelayan pria (waiters) memakai busana Melayu warna merah dipadu sarung kotak – kotak dan peci dengan bunga kamboja terselip di salah satu telinga. Di baju bagian pinggang tergantung klintingan seperti gelang kaki yang dipakai pemain Tari Remo. Klintingan tersebut bergemerincing jika waiters bergerak dan berjalan. Mereka melayani dengan ramah dan santun.
Sementara bersantap, telinga dibuai oleh alunan instrumental gamelan Jawa, Sunda dan Bali secara bergantian. Alunan musik ini melengkapi suasana dan hidangan yang nikmat.
Bersantap di Pasar Malem dan menghabiskan malam di sini akan memberi kesan mendalam. (natalia)
















forum bebas tanpa batas
facebook 
