Pesawat Presiden SBY didoakan jatuh

Cetak

Meskipun sebagai seorang pemimpin selalu menyayangi semua orang yang dipimpinnya, tulus, dan sepenuh hati, belum tentu perlakuan dari yang dipimpin terhadapnya selalu baik. Tidak hanya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), siapa pun Presiden yang pernah memimpin negeri ini, mulai dari Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati tentunya ingin berbuat yang terbaik bagi rakyat dan negaranya.

Namun kenyataannya, dunia tidak seindah yang diimpikan. Kehidupan ternyata sering amat keras bahkan kejam. Di satu sisi manusia sering bersikap lemah lembut, santun, toleran, moderat, dan rasional. Tetapi, di sisi lain manusia kerap pula menjadi kasar, ekstrem, agresif, dan tidak rasional.  Presiden SBY yang telah memimpin negeri ini selama 9 (sembilan) tahun, mengakui mengalami suka-duka dan pahit-getirnya keadaan, perlakuan dari rakyat Indonesia dari kedua keadaan itu.

“Ketika ada kejadian yang memberikan dampak kurang baik bagi sebagian kalangan masyarakat kita, ataupun ada keputusan dan kebijakan yang saya ambil sebagai Presiden, atau pun pula ada keadaan yang tidak menyenangkan sebagian rakyat kita, apa yang diucapkan dan disampaikan kepada saya sering luar biasa keras dan kasar,” kata Presiden SBY.

Tentu, yang berlaku seperti itu jumlahnya sedikit, sedikit sekali. Tetapi dengan sering diangkatnya oleh media massa, menurut Presiden, banyak sahabatnya yang amat prihatin dan marah dengan kekasaran seperti itu.

Presiden SBY menunjuk contoh sejumlah makian dan sumpah serapah yang sempat di-SMS-kan kepadanya atau Ibu Negara Ani Yudhoyono. Presiden yakin siapa pun yang membacanya akan mengatakan kata-kata itu sebagai keterlaluan.

“SBY, semoga Tuhan mengutukmu. Biar pesawat yang Anda tumpangi jatuh,” kirim seseorang yang merasa kecewa dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM.

“Jika permintaan kelompok kami tidak dipenuhi akan saya kerahkan rakyat untuk membakar Jakarta, serta menyerbu dan menghancurkan Istana Negara,” ancam mereka yang merasa tidak ada kepastian untuk menjadi pegawai negeri tetap.

“Dasar penakut. Lebih baik Anda mundur dari presiden,” kata-kata seseorang yang mengaku dari kalangan perguruan tinggi tertentu, yang kecewa dengan keputusan pemerintah yang tidak memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia.

“SBY itu manusia pembawa sial, dan merusak,” ucap seseorang yang bergerak di dunia paranormal, tetapi juga di wilayah politik, yang secara pribadi sebenarnya SBY tidak memiliki permasalahan dengannya.

Kata-kata yang menghunjam tajam itu bukan hanya dari anggota masyarakat. Tapi kalangan DPR, elit politik dan pengamat, juga sering kali menyampaikan pernyataan yang teramat kasar. SBY mencontohkan ketika ada konsultasi antara pemerintah dengan DPR-RI berkaitan dengan rencana kenaikan harga BBM pada tahun 2008 lalu, ada seorang anggota DPR yang juga pengurus dari fraksi partai tertentu, yang menghadiahkan serangan pedas kepadanya.

“Pemimpin itu berkewajiban untuk menyejahterakan masyarakat. Bukan seperti ini, zalim kepada rakyatnya,” kenang SBY atas ucapan anggota DPR yang ketika itu disampaikan dengan berapi-api.

Lantas bagaimana balasan atau jawaban SBY atas perlakuan orang-orang yang kasar itu?

Menurut SBY, pada masa bakti keduanya sebagai presiden, tokoh politik yang pernah menyebutnya zalim itu diangkatnya menjadi menteri. “Sebenarnya saya tidak pernah lupa akan dampratan pedas yang menyakitkan itu. Tetapi, saya selalu melihat ke depan,” kata SBY sembari menyebutkan, dengan menjadi menteri, tokoh politik itu kini mengerti apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh seorang presiden. Bahkan ia juga mengerti betapa tidak mudahnya mengambil keputusan dan menetapkan kebijakan yang paling tepat atas berbagai permasalahan yang kompleks.

SBY juga mengemukakan, ada orang yang sangat kecewa karena ingin menjadi sesuatu tetapi tidak ia penuhi. Orang ini dengan mudahnya mengecam dia di hadapan seseorang, dan kemudian seseorang itu meneruskannya kepada dirinya.

Mau tahu apa yang dikatakannya? “Jangan harap Anda mendapatkan jabatan itu. Semuanya serba uang. Kalau saya mau memberi 30 miliar rupiah, saya pasti jadi,” itulah ucapan orang tersebut.

“Naudzubillah,” kata SBY. Justru, penyimpangan seperti itulah yang ia perangi. “Politik uang seperti yang digambarkan itulah yang harus kita singkirkan karena akan menghancurkan demokrasi kita,” kata Presiden SBY.

Bagi Presiden SBY inilah kehidupan. Meskipun sudah memahami kenapa ia dan keluarga diperlakukan seperti itu, tetapi saja ia suka merenung. “Pernah terlintas di pikiran saya, apakah hanya saya yang dibeginikan. Tetapi, akal saya segera bekerja. Dari apa yang saya ketahui dan pelajari, ternyata saya bukan satu-satunya yang menderita secara batin seperti itu. Bahkan, mungkin ada pemimpin lain yang tidak kalah dalam hal pengorbanan dan penderitaan yang mesti dialami,” tutur SBY.

(Dinukil dari buku “SBY, Selalu Ada Pilihan”, diterbitkan KOMPAS, hal. 224-227)

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.